Blog
Mobil Hybrid Makin Populer di Indonesia, Apa Bedanya HEV, PHEV, dan Mild Hybrid?
Mobil hybrid semakin mendapat perhatian di Indonesia. Berdasarkan laporan resmi GAIKINDO untuk HEV dan PHEV periode Januari–Juli 2026, kendaraan elektrifikasi menunjukkan pertumbuhan positif.
Data wholesales GAIKINDO yang dikutip DetikOto mencatat distribusi 50.138 unit HEV sepanjang Januari–Juli 2026, meningkat sekitar 42,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, PHEV mencatat distribusi sebanyak 6.988 unit, meningkat dari 2.088 unit pada periode Januari–Juli 2025.
Pilihan mobil elektrifikasi di Indonesia pun semakin beragam. Namun, meskipun sama-sama menggunakan istilah “hybrid”, HEV, PHEV, dan Mild Hybrid memiliki cara kerja yang berbeda.

Ilustrasi perbedaan HEV, PHEV, dan Mild Hybrid berdasarkan sistem penggerak dan kebutuhan charging.
Lalu, Apa Bedanya HEV, PHEV, dan Mild Hybrid?
Menurut U.S. Department of Energy melalui Alternative Fuels Data Center, Hybrid Electric Vehicle atau HEV secara teknis dapat dibedakan menjadi mild hybrid dan full hybrid. Agar lebih mudah dipahami, pembahasan HEV berikut merujuk pada full hybrid.
1. HEV atau Full Hybrid
Full hybrid menggunakan kombinasi mesin pembakaran, motor listrik, dan baterai traksi.
Berbeda dari mobil listrik murni, baterai pada HEV tidak perlu diisi menggunakan charger eksternal. Berdasarkan penjelasan Alternative Fuels Data Center, energi baterai dapat diperoleh dari mesin dan melalui regenerative braking, yaitu proses menangkap kembali energi saat kendaraan melambat atau melakukan pengereman.
Dalam kondisi tertentu, full hybrid juga dapat menggerakkan kendaraan menggunakan motor listrik tanpa bantuan mesin pembakaran, misalnya pada kecepatan rendah atau perjalanan jarak pendek.
Beberapa contoh kendaraan full hybrid yang tersedia di Indonesia antara lain Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid EV, Toyota New Veloz Hybrid EV, Honda HR-V e:HEV, serta Mitsubishi New Xforce HEV.
Singkatnya: full hybrid tidak perlu dicolok ke charger, sementara sistem kendaraan akan mengatur penggunaan mesin dan motor listrik sesuai kebutuhan.
2. PHEV atau Plug-in Hybrid Electric Vehicle
PHEV juga menggabungkan mesin pembakaran dengan motor listrik. Perbedaan utamanya terdapat pada sistem baterai.
Menurut Alternative Fuels Data Center, PHEV umumnya memiliki baterai traksi yang lebih besar dibandingkan HEV dan dapat diisi dari sumber listrik eksternal melalui charging port.
Kapasitas baterai yang lebih besar memungkinkan PHEV menempuh perjalanan menggunakan tenaga listrik saja dalam jarak yang lebih jauh dibandingkan full hybrid. Ketika daya baterai berkurang atau kondisi berkendara membutuhkan mesin pembakaran, kendaraan tetap dapat menggunakan mesin tersebut untuk melanjutkan perjalanan.
Singkatnya: PHEV dapat di-charge dari sumber listrik eksternal, tetapi tetap memiliki mesin pembakaran.
3. Mild Hybrid
Mild Hybrid menggunakan sistem elektrifikasi yang lebih sederhana. Motor listrik atau starter-generator berfungsi membantu kerja mesin, misalnya ketika akselerasi, menjalankan fungsi start-stop, dan mengambil kembali energi saat kendaraan melambat.
Berbeda dari full hybrid, mild hybrid tidak dapat menggerakkan kendaraan hanya menggunakan tenaga listrik.
Salah satu contoh teknologi mild hybrid yang digunakan di Indonesia adalah Smart Hybrid Vehicle by Suzuki atau SHVS. Suzuki menjelaskan bahwa sistem tersebut menggabungkan mesin pembakaran internal, Integrated Starter Generator (ISG), dan baterai lithium-ion.
Singkatnya: pada mild hybrid, mesin tetap menjadi penggerak utama, sementara sistem listrik membantu meningkatkan efisiensi kerjanya.

Perbandingan singkat cara kerja dan karakteristik HEV, PHEV, dan Mild Hybrid.
Mobil Hybrid Tetap Punya Sistem Kelistrikan Tegangan Rendah
Selain baterai traksi bertegangan tinggi, kendaraan HEV dan PHEV juga memiliki low-voltage auxiliary battery atau sistem baterai tegangan rendah.
Menurut Alternative Fuels Data Center, auxiliary battery digunakan untuk menyediakan daya tegangan rendah ketika kendaraan diaktifkan serta mendukung berbagai aksesori dan sistem kelistrikan. Sementara itu, traction battery memiliki fungsi utama menyimpan energi untuk menggerakkan motor listrik.
Namun, jenis auxiliary battery dapat berbeda pada setiap kendaraan. Tidak semua mobil hybrid menggunakan aki 12V lead-acid konvensional. Sebagai contoh, Hyundai Owner’s Manual mendokumentasikan penggunaan auxiliary battery lithium 12V pada salah satu model PHEV.
Karena itu, ketika auxiliary battery perlu diperiksa atau diganti, pastikan tegangan, kapasitas, ukuran, posisi terminal, dan teknologi baterai sesuai dengan rekomendasi produsen kendaraan.

Jangan Salah, Mobil Hybrid dan Aki Hybrid Itu Berbeda
Istilah mobil hybrid dan aki Hybrid tidak memiliki arti yang sama.
Mobil hybrid merujuk pada teknologi penggerak yang memadukan mesin pembakaran dengan sistem tenaga listrik. Sementara itu, istilah aki Hybrid mengacu pada jenis atau konstruksi tertentu dari aki kendaraan.
Artinya, pemilihan aki tidak dapat hanya didasarkan pada label “hybrid” pada sebuah kendaraan. Pemilik kendaraan tetap perlu menyesuaikan baterai dengan spesifikasi yang ditentukan oleh pabrikan.
Kesimpulan
HEV atau full hybrid, PHEV, dan mild hybrid sama-sama memanfaatkan teknologi elektrifikasi, tetapi memiliki cara kerja yang berbeda.
Full hybrid tidak membutuhkan charging eksternal dan dapat menggunakan tenaga listrik saja dalam kondisi tertentu. PHEV memiliki baterai yang dapat di-charge dari sumber listrik eksternal dan mampu menggunakan tenaga listrik dalam jarak yang lebih jauh. Sementara mild hybrid memanfaatkan sistem listrik untuk membantu kerja mesin dan tidak dapat bergerak hanya dengan tenaga listrik.
Dengan semakin beragamnya kendaraan elektrifikasi di Indonesia, memahami perbedaan teknologi tersebut dapat membantu konsumen memilih kendaraan sekaligus memahami kebutuhan sistem kelistrikannya dengan lebih tepat.